Showing posts with label politics. Show all posts
Showing posts with label politics. Show all posts

Wednesday, 9 February 2011

Perubahan Sosial melalui Media Baru (Tinjauan Ilmu Komunikasi)

Apa sih Twitter? Twitter adalah situs mikroblogging. Well, saya gak akan menjelaskan bagaimana caranya menggunakan Twitter secara panjang lebar. Tapi, bagi kalian yang masih belum punya dan belum paham soal Twitter, silahkan kunjungi blog adik saya (klik di sini!). Sebelumnya, saya persilahkan Anda untuk berpikir, apakah anda merasa Twitter itu berguna bagi kehidupan anda atau tidak. Silahkan pilih.

Seperti kita ketahui bahwa Indonesia tercatat sebagai negara dengan pengguna Twitter terbanyak di dunia pada 2010, lebih tepatnya berjumlah 20,8 % dari pengguna internet di Tanah Air. Sementara, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 45 juta. Untuk lebih lengkapnya, silahkan kunjungi kompas online (klik di sini) dan detikcom (klik di sini). Melihat dari data jumlah pengguna internet di Indonesia, wajar saja apabila jumlah pengguna Twitter akan terus bertambah dan bertambah setiap harinya.

Ketika jumlah pengguna Twitter terus menerus bertambah, bisa dikatakan bahwa sebagian masyarakat Indonesia sudah melek terhadap kehadiran media baru, khususnya Twitter. Namun, masyarakat Indonesia yang baru melek akan adanya media baru seperti Twitter ini hanya terjadi pada kelompok masyarakat menengah ke atas. Mengapa hanya kelompok masyarakat menengah ke atas yang melek terhadap kehadiran media baru? Mudah menjawabnya, karena hanya mereka lah yang mampu memiliki akses terhadap internet. Tapi pertanyaannya, apakah mereka (baca : kelompok masyarakat menengah ke atas) sudah benar-benar paham akan fungsi dan peranan media baru, seperti Twitter? Dan, apa sebenarnya yang menjadi kekuatan dari media baru, seperti Twitter? Sebelum saya jawab, akan lebih baik jikalau saya menjelaskan dengan menggunakan beberapa contoh berikut ini.


Berawal dari Twitter

Kita, sebagai bagian warga dunia, sangat tahu mengenai situasi politik di Mesir. Situasi politik Mesir yang tidak stabil lantaran sang pemimpin negara, Hosni Mubarak, masih nyaman untuk menikmati kekuasaannya selama 30 tahun. Pada akhirnya, sama seperti Indonesia pada Mei 1998, masyarakat pun berbondong-bondong turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka (baca: masyarakat kontra terhadap kekuasaan Mubarak) bahwa Mubarak sepantasnya harus turun. Mereka pun tidak lelah, meski sudah berjalan kurang lebih dua minggu terakhir. Jikalau kita ingin menelisik lebih lanjut, sebenarnya gerakan masyarakat ini berasal dari mana?

Gerakan masyarakat yang muak terhadap pemerintahan Mubarak itu berasal dari Twitter. Ya, awalnya mereka menyuarakan melalui Twitter dan Facebook. Apa saja yang mereka keluhkan melalui media baru tersebut? Mereka, apapun pekerjaannya, menyampaikan kegalauan hatinya mengenai periode kekuasaan yang diduduki Mubarak saat ini. Mereka juga mengeluh tentang minimnya kesempatan kerja yang disediakan oleh pemerintahan Mubarak. Bayangkan, hanya 2% lapangan pekerjaan yang tersedia. Ironis, padahal kita semua tahu bahwa Mesir adalah pusat peradaban agama Islam yang maju.(Untuk lebih lanjut, baca tempointeraktif dan majalah tempo, klik di sini)

Selanjutnya, apa yang mereka perbuat melalui Twitter dan Facebook hingga dapat menggerakkan demonstrasi secara besar-besaran? Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari tempointeraktif (bisa klik di sini), selain bercuit-cuit melalui Twitter, mereka juga membuat akun "We are all Khaled Said" yang memiliki anggota lebih dari 370 ribu orang. Fyi, sebagaimana saya kutip dari tempointeraktif, Khaled Said adalah pedagang yang tewas akibat dianiaya polisi tahun lalu. Akun ini menyerukan aksi antipemerintah berkali-kali, termasuk mengundang aksi 25 Januari lalu. Maka, mereka berhasil menggerakkan demonstrasi terbesar sepanjang sejarah politik Mesir.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah Twitter dan Facebook cukup berhasil dalam menggalang kekuatan rakyat atas nama keadilan hukum? Saya pernah membahas masalah ini pada postingan sebelumnya (bisa diklik di sini). Pada postingan saya sebelumnya, saya menyebutkan kasus-kasus apa saja yang diangkat ke publik oleh pers lantaran adanya desakan yang kuat dari masyarakat melalui media baru, seperti Twitter dan Facebook. Kasus-kasus tersebut ialah kasus Bibit-Chandra dan kasus Prita Mulyasari. Selain kasus-kasus hukum tersebut, ada juga rencana kebijakan Dana Aspirasi yang dibuat oleh DPR, tapi karena mendapatkan tanggapan dan reaksi keras dari masyarakat melalui media baru, maka rencana kebijakan Dana Aspirasi itu ditunda.

Atau kasus hukum yang masih hangat diperbincangkan di ranah Twitter, yakni kasus hukum yang menimpa ibunda dari @AlandaKariza. Awalnya, tidak ada yang tahu tentang apa yang tengah dialami oleh seorang @AlandaKariza, tapi setelah menulis melalui blog pribadinya (klik di sini), semua pengguna twitter di Indonesia sadar akan pentingnya kasus hukum ibunya Alanda. Tak perlu waktu lama, hampir semua pemilik akun twitter di Indonesia memberikan dukungan secara virtual terhadap Alanda melalui situs mikroblogging tersebut. Dampaknya, kasus hukum ibunya Alanda sukses menduduki peringkat kedua dari trending topics di Indonesia, melalui hashtag #helpAlanda. Terlebih lagi, beberapa media online (seperti @kompasdotcom, @detikcom, dan @tempointeraktif) langsung mengangkat kasus hukum ibunya Alanda sebagai salah satu berita. Wow, luar biasa dahsyatnya kekuatan media baru, khususnya Twitter.


the image source (click!)

Budaya Latah dalam Media Baru

Pertanyaannya adalah, mengapa kicauan tweeps (sebutan bagi para pengguna akun twitter) dapat menggoyahkan suatu negara atau pemerintahan? Menurut kacamata saya sebagai pemerhati ilmu komunikasi dan pemerhati isu sosial di dalam media baru, ada beberapa hal yang dapat disebut sebagai pemicu para tweeps untuk sekedar berkicau di ranah publik baru, yakni media baru. Pertama, adalah budaya latah dalam media baru. Kita sebagai tweeps, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di setiap negara belahan dunia, cenderung memiliki budaya latah atau budaya mengikuti apa yang diperbincangkan oleh para tweeps lainnya di timeline. Sama seperti pop culture yang sedang berkembang kemudian menarik untuk diikuti, persoalan publik yang tengah hangat dibicarakan pun dapat diikuti oleh para tweeps baik yang berasal dari masyarakat. Tapi yang menarik adalah, partisipasi masyarakat apolitis yang ikut berargumen mengenai berbagai persoalan publik yang mencakup isu sosial politik tersebut.

Wujud Ruang Publik Baru

Bagaimana bisa masyarakat apolitis juga tertarik untuk mengamati dan memiliki perhatian terhadap isu sosial politik yang tengah berkembang? Jawabannya sederhana, Kedua, masyarakat apolitis memiliki akses untuk memanfaatkan media baru, khususnya twitter, sebagai bentuk ruang publik baru. Akses untuk mendapatkan informasi lewat media baru didapat sepenuhnya oleh masyarakat apolitis melalui kehadiran teknologi komunikasi dan teknologi informasi. Di sisi lain, beberapa ahli memasukkan internet sebagai sarana baru, selain media cetak dan media elektronik, di dalam paradigma komunikasi massa yang mutakhir. Dengan kata lain, twitter dan situs jejaring sosial lainnya, atau media baru, sangat berpeluang untuk dijadikan sebagai ruang publik yang baru.

Twitter beserta media baru lainnya merupakan angin segar dalam kehidupan masyarakat apolitis di Indonesia. Angin segar, karena sesuai dengan cita-cita Juergen Habermas bahwa perlunya ruang publik yang memungkinkan orang-orang untuk berdiskusi berbagai persoalan publik tanpa adanya intervensi dari pemerintah. Sehingga, dapat dikatakan bahwa berbagai media baru tersebut adalah ruang baru di mana masyarakat dapat menyampaikan pendapat dan kritik pada pemerintah tanpa harus khawatir adanya intervensi dari pemerintah. Terlebih lagi, Indonesia sekarang ini berada di dalam kehidupan demokrasi yang cukup stabil. Seperti kita ketahui, kehidupan demokrasi suatu negara tidak akan berjalan efektif jikalau tidak ada ruang publik yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakatnya. Artinya, media baru bisa dipertimbangkan sebagai wujud ruang publik baru, tatkala media-media konvensional (seperti surat kabar, televisi, dan radio) justru telah dikuasai oleh para elite politik.

Keberadaan Opinion Leader dalam Media Baru
Ketiga, Opinion leader tidak hanya hadir secara nyata pada lingkungan masyarakat, tetapi juga berada di tengah-tengah masyarakat secara maya pada era konvergensi media. Memang tampaknya opinion leader pun mengalami pergeseran dan perluasan makna. Dahulu, kita mengenal tetua atau kepala adat atau kepala suku yang ada di dekat lingkungan tempat tinggal kita sebagai opinion leader. Namun, sekarang ini, sembari dipicu oleh kehadiran teknologi komunikasi dan teknologi informasi, kita dapat dengan mudahnya bertemu dengan para opinion leader secara tidak nyata. Di samping itu, opinion leader yang dulunya hanya ditemukan di lingkungan desa saja, saat ini opinion leader juga dapat kita temui di masyarakat kota dengan mengandalkan baik teknologi komunikasi maupun teknologi informasi. Maka, menurut hemat saya, opinion leader adalah seseorang yang berperan sebagai pemuka pendapat untuk mempengaruhi audiens di dalam proses komunikasi melalui berbagai media, apapun bentuknya. Dapat diartikan bahwa opinion leader tidak melulu hanya mempengaruhi audiens melalui media-media konvensional, bahkan melalui media baru pada era konvergensi media.

Media Baru Ditinjau dari Model Jarum Injeksi
Jikalau kita mengingat kembali tentang model jarum injeksi atau hypodermic needle model, bisa diambil latar belakang pemikiran model jarum injeksi ialah audiens bersikap pasif terhadap berbagai macam informasi yang disebarkan melalui media massa. Sehingga, media massa justru lebih aktif untuk mempengaruhi audiens. Hal inilah yang dikatakan oleh Nurudin di dalam bukunya yang berjudul Sistem Komunikasi Indonesia. Menurut Nurudin, model jarum injeksi ini sama seperti teori peluru, yang mana ia menganalogikan bahwa jika sebutir peluru dikeluarkan dari katupnya, ia akan selalu menemukan sasaran. Sasaran yang dimaksud ialah audiens yang pasif tersebut.

Apabila dikaitkan dengan beberapa persoalan publik yang kembali mengemuka melalui media baru, bisa dilihat bahwa para pengguna media baru, seperti Twitter adalah sasaran empuk bagi media baru. Sasaran empuk, sebab para tweeps ialah audiens yang pasif. Artinya, para tweeps hanya mampu menikmati derasnya arus informasi yang mengalir dalam Twitter. Tak heran bila Elihu Katz (berdasarkan buku Nurudin yang berjudul Sistem Komunikasi Indonesia) mengemukakan beberapa ciri dari suatu media sehubungan dengan model jarum injeksi. Salah satu ciri yang dimaksud, yaitu, media massa memiliki kekuatan luar biasa yang mampu menginjeksi secara mendalam berbagai macam informasi ke dalam benak-benak yang tidak berdaya.

Seperti saya jelaskan di atas bahwa internet merupakan sarana baru di dalam paradigma komunikasi massa baru, jadi Twitter dan media baru lainnya bisa diklasifikasikan ke dalam pembagian media massa. Maka dari itu, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Elihu Katz, Twitter beserta media baru lainnya juga memiliki kekuatan luar biasa untuk menembakkan segala macam informasi, khususnya persoalan publik, kepada audiens di dalamnya, yakni para tweeps. Ditambah lagi dengan keberadaan para opinion leader yang berperan untuk mempengaruhi para tweeps dalam arus penyebaran informasi. Apalagi jika para opinion leader tersebut mengeluarkan pendapatnya masing-masing secara sama dan serentak. Dengan demikian, peran media baru (seperti Twitter) dibantu dengan para opinion leader pada akhirnya mampu untuk menciptakan adanya sebuah perubahan yang menyangkut persoalan publik serta kepentingan masyarakat.

Semoga tulisan ini bermanfaat :)

Thursday, 28 October 2010

Selamat Hari Sumpah Pemuda

Kepada seluruh pemuda/i di Tanah Air, alangkah baiknya jika kalian akan menggelar demonstrasi, seyogyanya kalian dapat berpikir kritis sesuai dengan situasinya secara bijak. Artinya, berpikir kritislah kalian jika sesuai dengan tempatnya. Lihat secara seksama dahulu kondisinya seperti apa. Amati dahulu masalah yang akan kalian kritisi apa. Barulah kalian berpikir kritis. Barulah kalian berdemonstrasi. Saya terkadang miris melihat para pemuda/i yang dulunya aktivis lalu sekarang menjadi bagian dari sistem politik yang berkuasa. Ya, pada kenyataannya memang tidak sedikit pemuda/i yang tergiur dengan kekuasaan. Tapi, tidak sedikit pula para pemuda/i yang masih konsisten untuk berjuang di jalan melalui demonstrasi.



Kepada seluruh pemuda/i di Tanah Air, alangkah baiknya jika saat ini kita bertindak dan berpartisipasi dalam mencapai cita-cita bangsa. Tidak hanya diucapkan melalui ikrar sumpah pemuda, tetapi juga dimulai dengan tindakan kecil untuk kemajuan bangsa ini. Contohnya seperti apa? Contohnya, saat sedang ujian, alangkah baiknya jika kalian tidak mencontek dan lebih percaya dengan jawaban kalian sendiri. Dengan tidak mencontek, kalian pun sudah melakukan tindakan positif demi kemajuan pendidikan bangsa. Mudah kan? Yuk, kita mulai bertindak untuk meraih cita-cita bangsa ! Tetap optimis ! :)

Monday, 25 October 2010

The Ghost Writer : Read Between The Lies

The Ghost Writer, tunggu dulu, ini bukan film horor yang akan membuat kita berteriak dan menutup mata. Film ini sama sekali tidak ada penampakan hantu atau pembunuhan berdarah dingin. Film ini memiliki genre thriller, drama, and mystery. Ya, cukup menegangkan karena pikiran kita dipaksa untuk memutar mencari jawaban mengapa Mike McAra meninggal? Apakah dia meninggal karena kecelakaan? Atau justru dibunuh oleh seseorang? Sekali lagi, kita tidak akan disodorkan situasi malam - di mana biasanya para pembunuh beraksi - tetapi justru kita digiring ke sebuah drama (yang pada akhirnya mengarah ke) politik dengan menegangkan.

Antara Politikus dan Penulisnya

Politikus merangkap sekaligus sebagai pejabat publik selalu membutuhkan penulis atau juru bicara yang membantu dalam membuat sebuah press release. Artinya, mereka (yang menjadi penulis atau juru bicara) adalah tangan kanan sang politikus tersebut. Sehingga membutuhkan suatu bentuk hubungan yang full of chemistry and very close each other di antara penulis dan politikus. Khusus untuk penulis biografi tokoh terkemuka, biasanya dikenal dengan sebutan Ghost Writer. Ghost writer merupakan sebutan yang identik dengan penulis biografi tokoh terkemuka tanpa menyebutkan nama atau identitas mereka. Itulah yang digambarkan oleh Roman Polaski melalui film dari adaptasi novel The Ghost (yang ditulis Robert Harris).




Awalnya, kita dibawa kepada sosok Ewan McGregor yang menjadi penulis bayangan - sebutannya adalah Ghost Writer - dan menggantikan penulis pendahulunya, yakni Mike McAra. Mike McAra meninggal secara misterius. Misterius, karena tidak diketahui secara pasti apakah dia kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh. Sehingga, perusahaan penerbitan tempat Mike McAra bernaung, Rhinehart Inc, mencari sosok penggantinya, yaitu Ghost Writer (Ewan McGregor) untuk melanjutkan penulisan biografi Adam Lang.

Siapakah Adam Lang? Adam Lang - yang diperankan oleh Pierce Brosnan - adalah mantan Perdana Menteri Inggris. Setelah dia berhenti bekerja memimpin Inggris, dia dan istrinya, Ruth Lang - diperankan oleh Olivia Williams - menetap di kantor pribadi sekaligus tempat tinggal pribadinya yang letaknya di sebuah pulau terpencil dan terisolasi dari hiruk pikuk keramaian United States of America (USA). Mereka tinggal bersama staf pribadi serta para pengawal pribadi mereka. Termasuk Ghost Writer yang pada akhirnya tinggal bersama di villa pribadi Adam Lang. Sejak tinggal di villa pribadi Adam inilah, ghost writer melihat beberapa hal aneh yang perlu ditelusuri dan dicari jawabannya hingga saling berkaitan satu sama lain.

Adam Lang dan Paul Emmett

Ghost writer memulai penulisannya dari mengapa Adam tertarik untuk terjun ke dunia politik, padahal semua orang tahu bahwa hidupnya bukan untuk bidang politik. Sesuai dengan apa yang dilontarkan Adam selama wawancara berlangsung, semula ghost writer mengira bahwa ketertarikannya pada dunia politik dikarenakan sosok Ruth yang cerdas. Ternyata, selidik punya selidik, sosok Ruth bukan merupakan satu-satunya alasan mengapa ia terjun ke dunia politik. Hal ini didasarkan atas beberapa temuan ghost writer di dalam kamar pendahulunya, McAra.

Ghost writer menemukan sebuah amplop coklat yang berisi hasil penyelidikan McAra yang disimpan di bawah laci lemari pakaiannya. Di dalam amplop tersebut terdapat kartu keanggotaan Adam sebagai anggota partai Buruh dan artikel yang menyebutkan kapan sang politikus bergabung di dalam partai Buruh. Berdasarkan kartu keanggotaan dan artikel, dapat dilihat adanya perbedaan mencolok tentang tahun bergabungnya Adam ke dalam partai Buruh. Perbedaan tahun ini mengisyaratkan keanehan mengenai alasannya terjun ke dunia politik.

Selain kartu keanggotaan dan artikel tentang keikutsertaannya di dalam partai Buruh, ghost writer juga menemukan foto-foto Adam bersama rekan-rekan kuliahnya sewaktu di Universitas Cambrige. Terekam di dalam salah satu foto tersebut, di antaranya ialah sosok Paul Emmet. Lalu, ghost writer pun menyelidiki ada hubungan apa di antara Paul Emmet dan Adam Lang. Meski awal mulanya tidak ada faktor kesengajaan. Ya, niat awal ghost writer ialah balik ke hotel dengan menggunakan mobil yang bisa dipakai McAra. Namun, sepanjang perjalanan sistem GPS (Global Positioning System) pada mobil malah membawa ghost writer menuju ke arah kediaman salah satu professor Universitas Harvard, yaitu Paul Emmet (yang diperankan oleh Tom Wilkinson). Penyelidikan sang ghost writer pun dimulai. Ya, mau tidak mau, ghost writer pun harus melakukan investigasi meski hanya untuk menulis sebuah biografi saja.

Ketika ghost writer menanyakan kedekatan yang terjalin di antara Paul Emmet dan Adam Lang, Paul Emmet terlihat sangat tertutup dan terlalu banyak kebohongan. Sayangnya, usai pertemuan ghost writer dan Paul Emmet, ghost writer dibuntuti dan dikejar oleh orang-orang suruhan Paul Emmett. Upaya pengejaran itu tidak berhasil, lantaran ghost writer mencoba untuk mengelabui dan menghilangkan jejaknya dari orang-orang suruhan Paul Emmett. Meskipun orang-orang itu mengejar ghost writer hingga ke pelabuhan, tetapi ia tidak kehilangan akal untuk menyelamatkan diri. Saat itu juga, ghost writer sadar bahwa McAra kemungkinan besar dibunuh oleh Paul Emmett setelah McAra mendatangi rumah Paul Emmet.

Saat ghost writer mulai merasa aman untuk berlindung, ia mencoba untuk menghubungi nomor telepon yang tertera di balik foto Paul Emmet dan Adam. Nomor telepon yang ditulis oleh McAra tersebut membawa ghost writer untuk menghubungi dan bertemu Richard Rycart (yang diperankan oleh Robert Pugh). Fyi, Richard Rycart adalah salah satu staf yang dipecat oleh Adam Lang dan juga membantu McAra pada waktu menyusun biografi.

Sembari menunggu pertemuannya dengan Richard Rycart, ghost writer mencoba untuk meneliti melalui internet tentang sosok Paul Emmet. Ternyata hasil penemuannya, Paul Emmet merupakan bagian dari CIA di saat tahun pertama kali Adam Lang memutuskan untuk menjadi politikus. Artinya, Adam Lang terjun ke dunia politik karena diajak oleh Paul Emmett yang juga bernaung di badan intelijen Amerika Serikat, apalagi kalau bukan CIA. Mulai terlihat kan bagaimana politikus Inggris tersebut juga dipengaruhi oleh Amerika?

Tak lama setelah menemukan fakta-fakta mengenai Paul Emmett di CIA melalui internet, ghost writer dijemput Richard Rycart. Richard Rycart sempat memberitahukan pada ghost write tentang jawaban misteri yang ditemukan oleh McAra. Katanya, "not all of it, just the beginning. There's something very important about it". Artinya, semua tertulis pada permulaan dan ada sesuatu yang sangat penting di sana. Itulah yang dikatakan oleh McAra kepada Richard Rycart dan diberitahukan kembali kepada ghost writer.

Ruth dan Paul Emmett

Sejak ditemukannya fakta mengenai Paul Emmet dan Adam Lang, pikiran kita akan selalu fokus pada dua sosok tersebut dan melupakan sosok lainnya, seperti Ruth. Ya, hingga pertengahan film berlangsung, Ruth tampaknya semakin terlupakan oleh pikiran kita bahwa sebenarnya ia memiliki peran penting dalam karier politik Adam Lang. Hingga akhirnya sampai di tengah-tengah film, Adam Lang ditembak oleh salah seorang demostran saat baru saja turun dari pesawat bersama para staf termasuk ghost writer. Adam Lang meninggal begitu saja di lokasi penembakan.


Sepeninggalnya mantan perdana menteri Inggris tersebut, buku biografi Adam Lang pun diterbitkan. Saat berlangsungnya peluncuran buku biografi Adam Lang, Ghost writer datang secara diam-diam bersama asisten pribadi Adam Lang, yaitu Amelia Bly (yang diperankan oleh Kim Cattrall dengan sangat berbeda). Ya, ghost writer datang secara diam-diam, mengingat ia adalah penulis bayangan yang sebenarnya tidak perlu untuk diketahui keberadaannya. Sebab, jika seorang penulis bayangan datang ke acara peluncuran buku yang ditulisnya, maka hal ini memalukan bagi ghost writer.

Selama acara berlangsung, ghost writer melihat Ruth sedang berbincang akrab dengan Paul Emmet. Setelah bertanya dengan Amelia Bly tentang mengapa Ruth dan Paul Emmet dekat, ternyata Paul Emmet adalah salah satu dosen pembimbing Ruth sewaktu kuliah S2 di Universitas Harvard. Lagi-lagi, ghost writer teringat kembali tentang jawaban misteri yang ditemukan McAra dalam buku biografi Adam Lang. Melalui ucapan Amelia Bly bahwa semuanya tertera ada di dalam bagian permulaan. Misteri pun terpecahkan. Kita pun tahu mengapa McAra dibunuh, siapa yang membunuh McAra, mengapa Adam Lang tertarik untuk terjun ke dunia politik, dan siapa yang mengajak Adam Lang untuk menjadi politikus. Semuanya terjawab melalui susunan kata berikut, "Langs wife, Ruth, was recruited by Paul Emmett, as a major in CIA".

Satu hal yang saya pikirkan adalah kematian Adam Lang yang sia-sia karena ia tidak tahu apa yang hendak disampaikan oleh kedua penulis bayangannya melalui buku biografi dirinya. Tetapi, secara menyeluruh, film ini dikemas dengan baik hingga bagian akhir film yang tak terbayangkan sebelumnya. Akting para pemain dan skenario cerita yang digambarkan sangat rapi dan sangat baik. A highly recommended movie for those who loves watching political thriller movie.

Sunday, 5 September 2010

The New Society in New Media in The Era of Democracy

In the era of Democracy, we (as public) are able to smell something fresh in our beloved country, Indonesia. What things that able to make us feel fresh in the newest system like democracy? Those things are, freedom of giving opinion through any mass media and freedom of the press. As we know, we have been indoctrinated by the goverment during the era of New Order (in Indonesia : Orde Baru). We have been indoctrinated that the policies of government were always right. In addition, we have never been given a chance to give criticism about the government and the policies. Ironically, the government also controlled the flow of information from mass media. The controlling of information (through mass media) was managed by the Mr. Soeharto and Departemen Penerangan. At that time, the content of the news from mass media was controlled by Departemen Penerangan. Yep, most of the news that we widely accepted is about the triumph of their policies. We were scarcely given about the negative things of government and policies. After controlling this country for 32 years, public were united to resist by holding a huge of demonstrations in all over Indonesia. Many demonstrations were held by college students, activists, and politicians at every level of society. I still remember that many chaos happened in every demonstration. And finally, Soeharto took off his duty as the president of Indonesia and then he was substituted by Mr. BJ. Habibie. We continously entered the door of new era, called by Era Reformasi, from 1998 until now. In Era Reformasi, we are able to feel the fresh smell of Democracy. This is indicated from freedom of the press and freedom of giving opinion.

Freedom of the press and giving opinion

Literally, press is the fourth pillar in democracy. This fact can be proven from many mass media grow up gradually in the end of 1998-1999. Entering the new period of 2000, mass media started to give something critical and skeptical about the government and the policies. There are almost no revocation and domination of the press by the government. If there were a little bit of revocation or domination of the press, the news would still be appeared critically. I guarantee for this.

Why do the press grow up freely and critically? Because of the system in Democracy. Democracy has been pushing the society, the press, and the government, to think, to speak, and to act critically. This means freedom of giving opinion. Speaking of this, the rule of giving opinion has been written in pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 and Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999. That is why most of us are being more critical than most of us are in New Order. That is why many mass media are being more critical than mass media are in New Order. Moreover, we are able to show off our critical thinking through mass media. As Juergen Habermas said that mass media always will be the public sphere for public either in a democracy country or a non-democracy country. Yup, mass media always will be the watchdog of government and the public sphere for the society. Yet, mass media (newspaper, magazine, television, and radio) shall face and follow the flow of globalization, this includes how mass media could adapt with the improvement of technology in order to provide a lot of empty spheres for the society, due to the role of mass media as a public sphere.


The exist of social media networking sites

As a matter of fact, we all were faced by the improvement of technology during the 21st century. We aren't able to avoid any improvements of technology, especially for technology communication, e.g. internet, blackberry, Ipad, and many more. The improvement of technology communication brings the society all over the world to get closer with informations. The improvement of technology communication brings the society all over the world to keep updated and to keep connected with informations. And one thing for sure, the improvement of technology communication brings the society all over the world to react and to criticize either any kinds of policy or any kinds of government.

One easiest way that how we use the technology communication for giving critisism is by using the internet. By using the internet, we are able to talk, discuss, and share about what we thought. Moreover, currently, we find many free facilities (through the internet) to post our critical thinking. Those free facilities are called by social media networking sites. How many social media networking sites that have been provided for us? Social media networking sites are getting many more and more, such as facebook, twitter, multiply, and any sorts of. Can you imagine that how many people in the world use all those social media networking sites in every day? I think, almost all humans in the world use social media networking sites to support their life needs, especially in terms of our right to get information as many as possible.

The civilization of human has already changed. Human needs the improvement of technology communication to support their life. Human needs the internet to make their life more efficiency and more practical. Human needs social media networking sites to describe about what they thought into the words. One thing, for sure, Human believes that social media networking sites have fully strength to change the world. In social media networking sites, human are united to be – what we called by – mass society or public. Therefore, public comes recently as the new society in the new media.


According to the passage above, the new society has emerged which accompanied by social media networking sites as the new media. The new media has unexpected characteristics and unexpected functions in every aspect of life. One of unexpected characteristics is critical public. The more critical our society, the more loudly we speak, through social media sites. The more loudly we speak, the more changes we get. Besides an unexpected characteristic, the new media also produced unexpected functions. An unexpected function will always be appearing in the changes of mass media, including the exist of social media networking sites. Like two concepts that given by Robert K. Merton (one of sociologist), these two concepts are manifest function and latent function. Manifest function is an expected function that arise from the change. Whereas, latent function is an unexpected function that arise from the change.


One of unexpected functions is many policies had been canceled because of our voices and our opinions in the new media. This means, sometimes we need talking too much on every social media networking sites, because mass media will help to highlight our voices to the government. And many policies had been canceled because of our voices on social media networking sites. Guys, do you still remember about Bibit-Chandra’s Case? Prita Mulyasari’s Case? Dana Aspirasi’s Case? these facts show that our voices (on social media networking sites) will be giving much influences to the making process of any policies. The example cases (such as Bibit-Chandra’s Case, Prita Mulyasari’s Case, and Dana Aspirasi’s Case) describe how the new society can change and refuse either the government or the policies through social media networking sites. By giving voices on social media networking sites, we don't judge the government negatively, we only express voice of the voiceless.

Thursday, 9 April 2009

the election day

hey, guys! today is very important for us to make a difference by voting the candidates from each parties.. Ya, the election day comes on April, 9. Come on guys, don't be a GOLPUT, because it won't make any changes to the continuity of our election and democracy in this country! Even though, this post is unable to update about the election, well, i just want to make sure all of you that you already voted the best canditate. Have you voted today? Or do you have any difficulties to choose who is a better one? If you find any difficulties, at least, you'll make the difference by voting the party or the candidate!


This photo is taken by my sister, fanny. She took my little finger by using our nikon DSLR camera when I already voted this morning. I always love her ideas, drawing, photo, and her editing. Good job sis! Love you always! :)

note: hopefully, all of you used your right to vote and make any differences to our country! Oya, don't forget to visit my sister's blog, hehe

Wednesday, 18 February 2009

Hillary Goes to Indonesia

Setelah mengunjungi Jepang, Hillary Clinton melanjutkan lawatannya ke Indonesia. Semenjak terpilih sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Barrack Obama, Hillary telah diinstruksikan dan diberikan tugas melakukan pertemuan bilateral di wilayah Asia. Adapun negara-negara yang dikunjungi oleh Hillary yaitu Jepang, Indonesia, Korea, dan China. Indonesia merupakan negara Muslim pertama yang dikunjungi mantan Senator New York ini sejak dilantik menjadi Menteri Luar Negeri AS satu bulan lalu. Kunjungan Hillary ke Asia Timur dan Tenggara merupakan pendekatan diplomasi baru di bawah pemerintahan Presiden AS Barack Obama. Ya, surprisingly, Indonesia benar-benar menjadi negara kedua yang dijadwalkan oleh Hillary selama masa lawatannya.


Kunjungan Hillary beserta staf menteri luar negeri AS tentu saja ditujukan untuk mempererat dan memperbaiki kerjasama regional yang lebih baik lagi. Jujur, saya tidak tahu pasti wujud kerjasama seperti apa yang real antara Amerika Serikat dengan Republik Indonesia. Namun, kemudian, banyak orang bertanya-tanya apa signifikansi kunjungan atau lawatan Hillary ke Indonesia? Apakah semata-mata karena Barrack Obama pernah tinggal di Indonesia hingga hampir seluruh warga mengidolakannya? Atau justru Barack Obama melihat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai penduduk muslim terbesar di Asia?

Setidaknya, kita sebagai warga negara yang baik bisa melihat dari perspektif berbeda dan positif terkait dengan kunjungan Hillary pada tahun ini. Indonesia as a developing country, bisa dipertimbangkan sebagai negara untuk dijadikan mitra kerjasama yang sama-sama menguntungkan. Sekiranya ada dua alasan mengapa Indonesia dipilih sebagai mitra kerjasama Amerika Serikat dalam masa pemerintahan Barrack Obama.

Pertama, penduduk Indonesia didominasi dengan pemeluk agama muslim yang demokratis. Sehingga suara atau aspirasi Indonesia selalu didengar oleh negara-negara lain yang memiliki jumlah pemeluk agama Islam yang cukup banyak. Di sisi lain, Indonesia juga menjalin hubungan sangat baik dengan sejumlah negara Islam, seperti dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah. Misalnya saja, sewaktu Dubes Indonesia untuk Palestina, Fariz Al Mehdawi, mengungkapkan aspirasinya untuk mendesak Dewan Keamanan PBB. Ini ditujukan agar mewujudkan resolusi genjatan senjata di Palestina. Dalam kaitan itu, partisipasi Indonesia selalu ditunggu dan diperhitungkan dalam memecahkan masalah konflik di Timur Tengah.

Kedua, Amerika Serikat kagum terhadap proses demokratisasi di Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir ini, proses demokratisasi telah berjalan semaksimal mungkin dengan hasil yang cukup memuaskan bagi seluruh warga Indonesia. Terlebih bahwa masyarakat muslim Indonesia bisa mengikuti dan menjalankan demokrasi secara tentram. Sungguh menggembirakan, jikalau memang masyarakat muslim Indonesia dipandang positif sebagai masyarakat demokrat. Bisa dibilang Indonesia cukup berhasil membangun dan menyatukan diversity of religion and political views in democracy.

Once again I told you all, seperti kata Hillary dalam pertemuannya di Asia Society beberapa hari lalu, bahwa bukan karena Barrack Obama pernah tinggal di daerah sekitar Menteng dan diidolakan oleh warga Indonesia. Tetapi lebih mengedepankan bagaimana menjalin, mempererat, dan menegaskan kerjasama yang mutual respect. Semoga saja, pertemuan bilateral antara Amerika Serikat dan Indonesia dapat membawa keuntungan bagi kedua pihak!

Note: As a good citizen, we must be proud of our country!! :)

Sunday, 4 January 2009

Let's praying for PALESTINE!




In the last week of December, we were all suprised with news about the invasion of Israel to Palestine. The invasion started on December, 27th. But, the invasion is still continuing now. There were so many people killed by the Israeli military. The death toll is about 422 people and there were about 100 children killed too. Yup, most of people killed consist of women and children. Could you imagine this fact? I totally can't imagine the situation of Gaza. As you know, the invasion was caused by Israel wanting to take a little part of district in Palestine. For some weeks, after I read and watched news about Israel and Palestine, I was shocked. I can't do anything. I just pray to God. I just wish that Israel would end the invasion. I just wish all the world leaders may help to look for other solutions for Israel and Palestine.

Through on this post, I want all of the people (readers or bloggers) to pray for Palestine.

Let's praying for Palestine!

I'm wishing Palestinians could be tougher to against the invasion!

I'm wishing Israel could stop the invasion!




Friday, 21 November 2008

Pemilih Pemula, pemilih yang menyedihkan

What is Pemilih Pemula??

Who is called with "Pemilih Pemula"??


Pemilih Pemula is someone who already has an identity card, such as KTP (Kartu Tanda Penduduk). It means he or she is still in the age between 17 until 21 years old. So that, Pemilih Pemula usually still in the senior high school and college. They or Pemilih Pemula have a right to vote in the elections in 2009. But, do they realize with what their right in next elections??


Yeah, i'm not sure if they realized what they should do or who they should vote. Because, i'm not really sure with process of the elections in Indonesia. Why i'm not really sure?? Because, based on the amount of parties, huff.. there are SO MANY parties NOW. Can you imagine million people in Indonesia SHOULD KNOW each parties so well??? i can't imagine how
Indonesian people could know much about 38 parties as well as possible. In case, if we just had 5 or 10 parties, perhaps Indonesian people could know them at all. I think it is so impossible thing in Indonesia.


Ok, back to main topic: Pemilih Pemula


Yesterday, my dad gave me a book. For a while, i think the book is about cartoon or heroes. Then, i opened it, wow.... wuuu.. it isn't a book, it's just a comic. The title of that comic: "Putih Abu-Abu Pemilu: Komik Politik untuk Pemilih Pemula". Wow, it's really AWESOME!


How cute that comic is..hahahaha


I tried to read..


Geezz.. It's a briliant comic, u know? I like the way of Nurul Arifin to campaign herself (for an information, she would be a caleg for Karawang). Yaa.. The author of that comic is my lecturer in UNAS. Although, she's trying to campaign herself by comic, but the comic is so very very very

Let me try to review her comic:
Adit (17) and Cici (17) are classmates. They don't understand about the elections, so they ask to their teacher, Pak Bono. They don't know what democration
is , what they should do, who they will vote in the elections, and which party is the best for them. Then, Pak Bono tries to answer their question.


useful for students in senior high school.



i got the conclusion is: "Pemilih Pemula: Pemilih yang menyedihkan"

Two Thumbs Up for Nurul Arifin! (well, i'm not one of her fans) hehehe.. ^_^