Saturday, 12 September 2009

Dua Puluh Dua

Halo semuanya! It's been a long time i've never updated my own blog, it's been almost 2months actually! tapi, ya udahlah terlalu banyak peristiwa yang terjadi dalam kehidupan saya hingga kemudian saya tidak terpikir (baca: malas) untuk menguraikannya di jurnal harian maya ini. Mulai dari peristiwa meninggalnya mbah surip, bom di jakarta, penggerebekkan teroris, gempa bumi, hasil keputusan KPU, tujuh belasan, dan bahkan film-film yang (sesungguhnya) harus di-review oleh saya. Salah satu peristiwa yang telah terlewatkan untuk diulas kembali adalah ulang tahun saya yang sudah sangat cukup berumur bagi seorang perempuan yang akan menjadi wanita.

Dua puluh dua.

Tiga tahun lagi (insya Allah) akan menjadi dua puluh lima.

Awal mulanya saya agak sedikit berat dengan memasuki umur dua puluh dua. Lantaran, dua puluh dua bukan angka nominal yang kecil lagi. Melainkan angka yang sudah termasuk kategori tingkat dua puluhan.

Risau. Takut. Gelisah. Tiga kata yang barusan saya ketik sangat pas untuk menggambarkan perasaan ketika saya sadar telah berumur dua puluh dua tahun.

Saya risau karena saya masih belum bisa membahagiakan kedua orang tua secara lahiriah, batiniah, dan (tentunya finansial). Klise, memang. Saya tahu semua orang pasti ingin sekali membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi, saya merasa sedih. Sangat sedih. Sangat berat. Terlebih dengan latar belakang kedua orang tua saya. Saya merasa malu. Malu sekali di hadapan orang tua saya. Apalah artinya saya di hadapan ibu dan ayah. Saya merasa kecil dan tidak berarti bagi mereka.

Ibu dan ayah adalah sosok yang terlalu hebat bagi saya. Terlalu banyak orang yang membanggakan betapa hebatnya ibu dan ayah. Terlalu banyak orang yang mengagumi ibu dan ayah. Terlalu banyak orang yang mengakui kesempurnaan antara keduanya. Terlalu banyak orang yang mengangkat topi mereka untuk kedua orang tua saya.

Bukannya saya sombong. Saya tidak bermaksud untuk menyombongkan diri sendiri. Saya tidak bermaksud untuk membusungkan dada. Sama sekali tidak ada maksud. Sejujurnya, saya justru sangat keberatan. Anda boleh mengira bahwa saya sangat tidak bersyukur kepada Allah. Tapi, maaf perkiraan anda salah besar. Saya selalu mengucapkan syukur kepada-Nya atas apa karunia Allah kepada kehidupan saya.

Saya hanya merasa kerdil. Saya bahkan tidak tahu apa yang bisa dibanggakan dari saya. Anda boleh bilang bahwa saya tidak percaya diri. Maaf, tapi anda salah. Saya pun masih percaya diri dengan kemampuan saya baik secara akademik maupun nonakademik.

Ibu.. maaf. Saya belum bisa membahagiakanmu sampai detik ini. Ayah.. maaf. Saya belum bisa membantu perekonomian keluarga. Apalah arti pekerjaan ajar-mengajar. Hasilnya pun tak cukup untuk membuktikan bahwa saya bisa memperkokoh keadaan finansial kita. Walau begitu, saya sangat bersyukur karena saya masih diberi pekerjaan oleh Allah dan diberi kesempatan untuk berbagi ilmu kepada mereka yang membutuhkan. Tapi, saya sudah memohon kepada Allah agar saya diijinkan dan diberi kesempatan untuk membahagiakan kalian hingga ajal memisahkan kita. Allah pasti mengabulkan, saya tahu pasti soal itu.

Saya takut karna saya sudah dua puluh dua tahun hidup di dunia ini. Entah berapa banyak waktu lagi yang diberikan Allah kepada saya untuk beramal di dunia.




-ayah dan ibu-

3 comments:

when the story comes said...

tenang aja kak
pasti ada kok jalannya
asal percaya, doa, dan usaha

semangat ya kaaak.

Hilda Hildaa Hildaas said...

sama gue jg jarang update blog hehhe.
dan sama juga, umur gue udah kepala dua.
suka serem juga ya.
hehehhe.
semoga idup kita bakal berguna sampai nanti ya...
amin.

neriva said...

I know what it feels!
and i think we will always feel that way forever, so we can always psychic to be better and giving more. it is a good feeling anyway, use it yu.