Showing posts with label my writing. Show all posts
Showing posts with label my writing. Show all posts

Saturday, 13 October 2012

Somewhere only we know

He's not on my list, simpul Una dalam hati.

Itulah kesimpulannya setelah Una menghabiskan waktu bersama Darwin selama kurang lebih dua jam di Burger King, Pondok Kelapa. Terlalu cepat menyimpulkan? rasanya tidak. tapi menurut sahabat Una, Angra, dia terlalu cepat menyimpulkan setelah perbincangan ngalor ngidul dalam waktu dua jam tadi malam. Entahlah. Yang jelas, menurut Una, he's not on my list.

"Kenapa na? kenapa lo bisa bilang bahwa lo belum 'klik' sama dia?"

"Ang, mas Darwin itu masih egois. Egois sama dirinya sendiri. Apalagi, untuk seumuran dia, tapi sayangnya masih egois, Ang. Gimana mau berbagi waktu sama istri dan anaknya nanti? Rasanya gak mungkin lah gw bisa sama dia,"

"Una Khairunnisa, lo gak boleh menyimpulkan terlalu cepat kayak gini. waktu lo sama mas Darwin gak hanya tadi malam. Masih banyak waktu untuk saling mengenal. Masih banyak waktu untuk melihat mas Darwin berubah untuk menjadi tidak egois,"

Tapi rasanya tidak mungkin Darwin itu bisa jadi sosok kepala rumah tangga yang baik. Selain egois, dia masih suka nongkrong sana-sini. Padahal sosok yang dibutuhkan Una untuk menjadi seorang suami adalah tipikal family man dan imam yang baik. Meski Darwin itu tiga tahun lebih tua dari Una, tapi dia bukan family man yang Una idamkan.

Ya, sudah satu tahun tujuh bulan Una mengenal sosok Darwin Putranto sebagai rekan kerja di consumer loan department salah satu bank asing di Jakarta. Una pun sebenarnya capek untuk hangout setelah lembur empat jam bersama ibu Marinka, Darwin, dan pak Dhanu. Namun, entah mengapa Una menganggukan tanda setuju setelah Darwin meminta Una menemani dirinya pergi makan malam.



Oh simple thing where have you gone?
I'm getting old and I need something to rely on
So tell me when you're gonna let me in
I'm getting tired and I need somewhere to begin


Somewhere only we know - Keane

Sunday, 16 September 2012

picture of you

Saat itu, entah kenapa kuputuskan untuk mengirim surat elektronik ke kamu. Surat elektronik yang isinya puluhan kata yang terangkum menjadi beberapa paragraf yang secara sederhananya menuju pada kesimpulan : Aku punya perasaan ke kamu setelah tujuh tahun belakangan ini kita menjadi sahabat. Aku berpikir surat elektronik itu menye-menye sekali, karena entah atas dasar apa aku (pada akhirnya) mengungkapkan melalui surat elektronik tersebut. 

 Terlihat jelas send button di monitor komputerku saat itu. Entah sedang waras atau tidak, aku arahkan kursor menuju send button. Surat elektronik menye-menye pun berhasil terkirim kepadamu. Sebagian batinku merasakan senang tiada taranya. Sebagian lagi batinku merasakan was-was. Ya, meski katanya kita sahabat, aku pun merasa was-was. Was-was karena takut kamu marah atau lebih parahnya lagi kamu hanya menganggapku sebagai sahabat. 

Aku pun keluar dari ruang surat elektronikku dan langsung menyetel lagu Picture of You-nya Boyzone.

You will be there
When I needed somebody
You will be there
The only one could help me

I had a picture of you in my mind
Never knew it could be so wrong
Why'd it take me so long just to find?
The friend that was there all along

Wednesday, 9 February 2011

Perubahan Sosial melalui Media Baru (Tinjauan Ilmu Komunikasi)

Apa sih Twitter? Twitter adalah situs mikroblogging. Well, saya gak akan menjelaskan bagaimana caranya menggunakan Twitter secara panjang lebar. Tapi, bagi kalian yang masih belum punya dan belum paham soal Twitter, silahkan kunjungi blog adik saya (klik di sini!). Sebelumnya, saya persilahkan Anda untuk berpikir, apakah anda merasa Twitter itu berguna bagi kehidupan anda atau tidak. Silahkan pilih.

Seperti kita ketahui bahwa Indonesia tercatat sebagai negara dengan pengguna Twitter terbanyak di dunia pada 2010, lebih tepatnya berjumlah 20,8 % dari pengguna internet di Tanah Air. Sementara, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 45 juta. Untuk lebih lengkapnya, silahkan kunjungi kompas online (klik di sini) dan detikcom (klik di sini). Melihat dari data jumlah pengguna internet di Indonesia, wajar saja apabila jumlah pengguna Twitter akan terus bertambah dan bertambah setiap harinya.

Ketika jumlah pengguna Twitter terus menerus bertambah, bisa dikatakan bahwa sebagian masyarakat Indonesia sudah melek terhadap kehadiran media baru, khususnya Twitter. Namun, masyarakat Indonesia yang baru melek akan adanya media baru seperti Twitter ini hanya terjadi pada kelompok masyarakat menengah ke atas. Mengapa hanya kelompok masyarakat menengah ke atas yang melek terhadap kehadiran media baru? Mudah menjawabnya, karena hanya mereka lah yang mampu memiliki akses terhadap internet. Tapi pertanyaannya, apakah mereka (baca : kelompok masyarakat menengah ke atas) sudah benar-benar paham akan fungsi dan peranan media baru, seperti Twitter? Dan, apa sebenarnya yang menjadi kekuatan dari media baru, seperti Twitter? Sebelum saya jawab, akan lebih baik jikalau saya menjelaskan dengan menggunakan beberapa contoh berikut ini.


Berawal dari Twitter

Kita, sebagai bagian warga dunia, sangat tahu mengenai situasi politik di Mesir. Situasi politik Mesir yang tidak stabil lantaran sang pemimpin negara, Hosni Mubarak, masih nyaman untuk menikmati kekuasaannya selama 30 tahun. Pada akhirnya, sama seperti Indonesia pada Mei 1998, masyarakat pun berbondong-bondong turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka (baca: masyarakat kontra terhadap kekuasaan Mubarak) bahwa Mubarak sepantasnya harus turun. Mereka pun tidak lelah, meski sudah berjalan kurang lebih dua minggu terakhir. Jikalau kita ingin menelisik lebih lanjut, sebenarnya gerakan masyarakat ini berasal dari mana?

Gerakan masyarakat yang muak terhadap pemerintahan Mubarak itu berasal dari Twitter. Ya, awalnya mereka menyuarakan melalui Twitter dan Facebook. Apa saja yang mereka keluhkan melalui media baru tersebut? Mereka, apapun pekerjaannya, menyampaikan kegalauan hatinya mengenai periode kekuasaan yang diduduki Mubarak saat ini. Mereka juga mengeluh tentang minimnya kesempatan kerja yang disediakan oleh pemerintahan Mubarak. Bayangkan, hanya 2% lapangan pekerjaan yang tersedia. Ironis, padahal kita semua tahu bahwa Mesir adalah pusat peradaban agama Islam yang maju.(Untuk lebih lanjut, baca tempointeraktif dan majalah tempo, klik di sini)

Selanjutnya, apa yang mereka perbuat melalui Twitter dan Facebook hingga dapat menggerakkan demonstrasi secara besar-besaran? Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari tempointeraktif (bisa klik di sini), selain bercuit-cuit melalui Twitter, mereka juga membuat akun "We are all Khaled Said" yang memiliki anggota lebih dari 370 ribu orang. Fyi, sebagaimana saya kutip dari tempointeraktif, Khaled Said adalah pedagang yang tewas akibat dianiaya polisi tahun lalu. Akun ini menyerukan aksi antipemerintah berkali-kali, termasuk mengundang aksi 25 Januari lalu. Maka, mereka berhasil menggerakkan demonstrasi terbesar sepanjang sejarah politik Mesir.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah Twitter dan Facebook cukup berhasil dalam menggalang kekuatan rakyat atas nama keadilan hukum? Saya pernah membahas masalah ini pada postingan sebelumnya (bisa diklik di sini). Pada postingan saya sebelumnya, saya menyebutkan kasus-kasus apa saja yang diangkat ke publik oleh pers lantaran adanya desakan yang kuat dari masyarakat melalui media baru, seperti Twitter dan Facebook. Kasus-kasus tersebut ialah kasus Bibit-Chandra dan kasus Prita Mulyasari. Selain kasus-kasus hukum tersebut, ada juga rencana kebijakan Dana Aspirasi yang dibuat oleh DPR, tapi karena mendapatkan tanggapan dan reaksi keras dari masyarakat melalui media baru, maka rencana kebijakan Dana Aspirasi itu ditunda.

Atau kasus hukum yang masih hangat diperbincangkan di ranah Twitter, yakni kasus hukum yang menimpa ibunda dari @AlandaKariza. Awalnya, tidak ada yang tahu tentang apa yang tengah dialami oleh seorang @AlandaKariza, tapi setelah menulis melalui blog pribadinya (klik di sini), semua pengguna twitter di Indonesia sadar akan pentingnya kasus hukum ibunya Alanda. Tak perlu waktu lama, hampir semua pemilik akun twitter di Indonesia memberikan dukungan secara virtual terhadap Alanda melalui situs mikroblogging tersebut. Dampaknya, kasus hukum ibunya Alanda sukses menduduki peringkat kedua dari trending topics di Indonesia, melalui hashtag #helpAlanda. Terlebih lagi, beberapa media online (seperti @kompasdotcom, @detikcom, dan @tempointeraktif) langsung mengangkat kasus hukum ibunya Alanda sebagai salah satu berita. Wow, luar biasa dahsyatnya kekuatan media baru, khususnya Twitter.


the image source (click!)

Budaya Latah dalam Media Baru

Pertanyaannya adalah, mengapa kicauan tweeps (sebutan bagi para pengguna akun twitter) dapat menggoyahkan suatu negara atau pemerintahan? Menurut kacamata saya sebagai pemerhati ilmu komunikasi dan pemerhati isu sosial di dalam media baru, ada beberapa hal yang dapat disebut sebagai pemicu para tweeps untuk sekedar berkicau di ranah publik baru, yakni media baru. Pertama, adalah budaya latah dalam media baru. Kita sebagai tweeps, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di setiap negara belahan dunia, cenderung memiliki budaya latah atau budaya mengikuti apa yang diperbincangkan oleh para tweeps lainnya di timeline. Sama seperti pop culture yang sedang berkembang kemudian menarik untuk diikuti, persoalan publik yang tengah hangat dibicarakan pun dapat diikuti oleh para tweeps baik yang berasal dari masyarakat. Tapi yang menarik adalah, partisipasi masyarakat apolitis yang ikut berargumen mengenai berbagai persoalan publik yang mencakup isu sosial politik tersebut.

Wujud Ruang Publik Baru

Bagaimana bisa masyarakat apolitis juga tertarik untuk mengamati dan memiliki perhatian terhadap isu sosial politik yang tengah berkembang? Jawabannya sederhana, Kedua, masyarakat apolitis memiliki akses untuk memanfaatkan media baru, khususnya twitter, sebagai bentuk ruang publik baru. Akses untuk mendapatkan informasi lewat media baru didapat sepenuhnya oleh masyarakat apolitis melalui kehadiran teknologi komunikasi dan teknologi informasi. Di sisi lain, beberapa ahli memasukkan internet sebagai sarana baru, selain media cetak dan media elektronik, di dalam paradigma komunikasi massa yang mutakhir. Dengan kata lain, twitter dan situs jejaring sosial lainnya, atau media baru, sangat berpeluang untuk dijadikan sebagai ruang publik yang baru.

Twitter beserta media baru lainnya merupakan angin segar dalam kehidupan masyarakat apolitis di Indonesia. Angin segar, karena sesuai dengan cita-cita Juergen Habermas bahwa perlunya ruang publik yang memungkinkan orang-orang untuk berdiskusi berbagai persoalan publik tanpa adanya intervensi dari pemerintah. Sehingga, dapat dikatakan bahwa berbagai media baru tersebut adalah ruang baru di mana masyarakat dapat menyampaikan pendapat dan kritik pada pemerintah tanpa harus khawatir adanya intervensi dari pemerintah. Terlebih lagi, Indonesia sekarang ini berada di dalam kehidupan demokrasi yang cukup stabil. Seperti kita ketahui, kehidupan demokrasi suatu negara tidak akan berjalan efektif jikalau tidak ada ruang publik yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakatnya. Artinya, media baru bisa dipertimbangkan sebagai wujud ruang publik baru, tatkala media-media konvensional (seperti surat kabar, televisi, dan radio) justru telah dikuasai oleh para elite politik.

Keberadaan Opinion Leader dalam Media Baru
Ketiga, Opinion leader tidak hanya hadir secara nyata pada lingkungan masyarakat, tetapi juga berada di tengah-tengah masyarakat secara maya pada era konvergensi media. Memang tampaknya opinion leader pun mengalami pergeseran dan perluasan makna. Dahulu, kita mengenal tetua atau kepala adat atau kepala suku yang ada di dekat lingkungan tempat tinggal kita sebagai opinion leader. Namun, sekarang ini, sembari dipicu oleh kehadiran teknologi komunikasi dan teknologi informasi, kita dapat dengan mudahnya bertemu dengan para opinion leader secara tidak nyata. Di samping itu, opinion leader yang dulunya hanya ditemukan di lingkungan desa saja, saat ini opinion leader juga dapat kita temui di masyarakat kota dengan mengandalkan baik teknologi komunikasi maupun teknologi informasi. Maka, menurut hemat saya, opinion leader adalah seseorang yang berperan sebagai pemuka pendapat untuk mempengaruhi audiens di dalam proses komunikasi melalui berbagai media, apapun bentuknya. Dapat diartikan bahwa opinion leader tidak melulu hanya mempengaruhi audiens melalui media-media konvensional, bahkan melalui media baru pada era konvergensi media.

Media Baru Ditinjau dari Model Jarum Injeksi
Jikalau kita mengingat kembali tentang model jarum injeksi atau hypodermic needle model, bisa diambil latar belakang pemikiran model jarum injeksi ialah audiens bersikap pasif terhadap berbagai macam informasi yang disebarkan melalui media massa. Sehingga, media massa justru lebih aktif untuk mempengaruhi audiens. Hal inilah yang dikatakan oleh Nurudin di dalam bukunya yang berjudul Sistem Komunikasi Indonesia. Menurut Nurudin, model jarum injeksi ini sama seperti teori peluru, yang mana ia menganalogikan bahwa jika sebutir peluru dikeluarkan dari katupnya, ia akan selalu menemukan sasaran. Sasaran yang dimaksud ialah audiens yang pasif tersebut.

Apabila dikaitkan dengan beberapa persoalan publik yang kembali mengemuka melalui media baru, bisa dilihat bahwa para pengguna media baru, seperti Twitter adalah sasaran empuk bagi media baru. Sasaran empuk, sebab para tweeps ialah audiens yang pasif. Artinya, para tweeps hanya mampu menikmati derasnya arus informasi yang mengalir dalam Twitter. Tak heran bila Elihu Katz (berdasarkan buku Nurudin yang berjudul Sistem Komunikasi Indonesia) mengemukakan beberapa ciri dari suatu media sehubungan dengan model jarum injeksi. Salah satu ciri yang dimaksud, yaitu, media massa memiliki kekuatan luar biasa yang mampu menginjeksi secara mendalam berbagai macam informasi ke dalam benak-benak yang tidak berdaya.

Seperti saya jelaskan di atas bahwa internet merupakan sarana baru di dalam paradigma komunikasi massa baru, jadi Twitter dan media baru lainnya bisa diklasifikasikan ke dalam pembagian media massa. Maka dari itu, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Elihu Katz, Twitter beserta media baru lainnya juga memiliki kekuatan luar biasa untuk menembakkan segala macam informasi, khususnya persoalan publik, kepada audiens di dalamnya, yakni para tweeps. Ditambah lagi dengan keberadaan para opinion leader yang berperan untuk mempengaruhi para tweeps dalam arus penyebaran informasi. Apalagi jika para opinion leader tersebut mengeluarkan pendapatnya masing-masing secara sama dan serentak. Dengan demikian, peran media baru (seperti Twitter) dibantu dengan para opinion leader pada akhirnya mampu untuk menciptakan adanya sebuah perubahan yang menyangkut persoalan publik serta kepentingan masyarakat.

Semoga tulisan ini bermanfaat :)

Sunday, 5 September 2010

The New Society in New Media in The Era of Democracy

In the era of Democracy, we (as public) are able to smell something fresh in our beloved country, Indonesia. What things that able to make us feel fresh in the newest system like democracy? Those things are, freedom of giving opinion through any mass media and freedom of the press. As we know, we have been indoctrinated by the goverment during the era of New Order (in Indonesia : Orde Baru). We have been indoctrinated that the policies of government were always right. In addition, we have never been given a chance to give criticism about the government and the policies. Ironically, the government also controlled the flow of information from mass media. The controlling of information (through mass media) was managed by the Mr. Soeharto and Departemen Penerangan. At that time, the content of the news from mass media was controlled by Departemen Penerangan. Yep, most of the news that we widely accepted is about the triumph of their policies. We were scarcely given about the negative things of government and policies. After controlling this country for 32 years, public were united to resist by holding a huge of demonstrations in all over Indonesia. Many demonstrations were held by college students, activists, and politicians at every level of society. I still remember that many chaos happened in every demonstration. And finally, Soeharto took off his duty as the president of Indonesia and then he was substituted by Mr. BJ. Habibie. We continously entered the door of new era, called by Era Reformasi, from 1998 until now. In Era Reformasi, we are able to feel the fresh smell of Democracy. This is indicated from freedom of the press and freedom of giving opinion.

Freedom of the press and giving opinion

Literally, press is the fourth pillar in democracy. This fact can be proven from many mass media grow up gradually in the end of 1998-1999. Entering the new period of 2000, mass media started to give something critical and skeptical about the government and the policies. There are almost no revocation and domination of the press by the government. If there were a little bit of revocation or domination of the press, the news would still be appeared critically. I guarantee for this.

Why do the press grow up freely and critically? Because of the system in Democracy. Democracy has been pushing the society, the press, and the government, to think, to speak, and to act critically. This means freedom of giving opinion. Speaking of this, the rule of giving opinion has been written in pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 and Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999. That is why most of us are being more critical than most of us are in New Order. That is why many mass media are being more critical than mass media are in New Order. Moreover, we are able to show off our critical thinking through mass media. As Juergen Habermas said that mass media always will be the public sphere for public either in a democracy country or a non-democracy country. Yup, mass media always will be the watchdog of government and the public sphere for the society. Yet, mass media (newspaper, magazine, television, and radio) shall face and follow the flow of globalization, this includes how mass media could adapt with the improvement of technology in order to provide a lot of empty spheres for the society, due to the role of mass media as a public sphere.


The exist of social media networking sites

As a matter of fact, we all were faced by the improvement of technology during the 21st century. We aren't able to avoid any improvements of technology, especially for technology communication, e.g. internet, blackberry, Ipad, and many more. The improvement of technology communication brings the society all over the world to get closer with informations. The improvement of technology communication brings the society all over the world to keep updated and to keep connected with informations. And one thing for sure, the improvement of technology communication brings the society all over the world to react and to criticize either any kinds of policy or any kinds of government.

One easiest way that how we use the technology communication for giving critisism is by using the internet. By using the internet, we are able to talk, discuss, and share about what we thought. Moreover, currently, we find many free facilities (through the internet) to post our critical thinking. Those free facilities are called by social media networking sites. How many social media networking sites that have been provided for us? Social media networking sites are getting many more and more, such as facebook, twitter, multiply, and any sorts of. Can you imagine that how many people in the world use all those social media networking sites in every day? I think, almost all humans in the world use social media networking sites to support their life needs, especially in terms of our right to get information as many as possible.

The civilization of human has already changed. Human needs the improvement of technology communication to support their life. Human needs the internet to make their life more efficiency and more practical. Human needs social media networking sites to describe about what they thought into the words. One thing, for sure, Human believes that social media networking sites have fully strength to change the world. In social media networking sites, human are united to be – what we called by – mass society or public. Therefore, public comes recently as the new society in the new media.


According to the passage above, the new society has emerged which accompanied by social media networking sites as the new media. The new media has unexpected characteristics and unexpected functions in every aspect of life. One of unexpected characteristics is critical public. The more critical our society, the more loudly we speak, through social media sites. The more loudly we speak, the more changes we get. Besides an unexpected characteristic, the new media also produced unexpected functions. An unexpected function will always be appearing in the changes of mass media, including the exist of social media networking sites. Like two concepts that given by Robert K. Merton (one of sociologist), these two concepts are manifest function and latent function. Manifest function is an expected function that arise from the change. Whereas, latent function is an unexpected function that arise from the change.


One of unexpected functions is many policies had been canceled because of our voices and our opinions in the new media. This means, sometimes we need talking too much on every social media networking sites, because mass media will help to highlight our voices to the government. And many policies had been canceled because of our voices on social media networking sites. Guys, do you still remember about Bibit-Chandra’s Case? Prita Mulyasari’s Case? Dana Aspirasi’s Case? these facts show that our voices (on social media networking sites) will be giving much influences to the making process of any policies. The example cases (such as Bibit-Chandra’s Case, Prita Mulyasari’s Case, and Dana Aspirasi’s Case) describe how the new society can change and refuse either the government or the policies through social media networking sites. By giving voices on social media networking sites, we don't judge the government negatively, we only express voice of the voiceless.

Wednesday, 18 February 2009

Hillary Goes to Indonesia

Setelah mengunjungi Jepang, Hillary Clinton melanjutkan lawatannya ke Indonesia. Semenjak terpilih sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Barrack Obama, Hillary telah diinstruksikan dan diberikan tugas melakukan pertemuan bilateral di wilayah Asia. Adapun negara-negara yang dikunjungi oleh Hillary yaitu Jepang, Indonesia, Korea, dan China. Indonesia merupakan negara Muslim pertama yang dikunjungi mantan Senator New York ini sejak dilantik menjadi Menteri Luar Negeri AS satu bulan lalu. Kunjungan Hillary ke Asia Timur dan Tenggara merupakan pendekatan diplomasi baru di bawah pemerintahan Presiden AS Barack Obama. Ya, surprisingly, Indonesia benar-benar menjadi negara kedua yang dijadwalkan oleh Hillary selama masa lawatannya.


Kunjungan Hillary beserta staf menteri luar negeri AS tentu saja ditujukan untuk mempererat dan memperbaiki kerjasama regional yang lebih baik lagi. Jujur, saya tidak tahu pasti wujud kerjasama seperti apa yang real antara Amerika Serikat dengan Republik Indonesia. Namun, kemudian, banyak orang bertanya-tanya apa signifikansi kunjungan atau lawatan Hillary ke Indonesia? Apakah semata-mata karena Barrack Obama pernah tinggal di Indonesia hingga hampir seluruh warga mengidolakannya? Atau justru Barack Obama melihat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai penduduk muslim terbesar di Asia?

Setidaknya, kita sebagai warga negara yang baik bisa melihat dari perspektif berbeda dan positif terkait dengan kunjungan Hillary pada tahun ini. Indonesia as a developing country, bisa dipertimbangkan sebagai negara untuk dijadikan mitra kerjasama yang sama-sama menguntungkan. Sekiranya ada dua alasan mengapa Indonesia dipilih sebagai mitra kerjasama Amerika Serikat dalam masa pemerintahan Barrack Obama.

Pertama, penduduk Indonesia didominasi dengan pemeluk agama muslim yang demokratis. Sehingga suara atau aspirasi Indonesia selalu didengar oleh negara-negara lain yang memiliki jumlah pemeluk agama Islam yang cukup banyak. Di sisi lain, Indonesia juga menjalin hubungan sangat baik dengan sejumlah negara Islam, seperti dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah. Misalnya saja, sewaktu Dubes Indonesia untuk Palestina, Fariz Al Mehdawi, mengungkapkan aspirasinya untuk mendesak Dewan Keamanan PBB. Ini ditujukan agar mewujudkan resolusi genjatan senjata di Palestina. Dalam kaitan itu, partisipasi Indonesia selalu ditunggu dan diperhitungkan dalam memecahkan masalah konflik di Timur Tengah.

Kedua, Amerika Serikat kagum terhadap proses demokratisasi di Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir ini, proses demokratisasi telah berjalan semaksimal mungkin dengan hasil yang cukup memuaskan bagi seluruh warga Indonesia. Terlebih bahwa masyarakat muslim Indonesia bisa mengikuti dan menjalankan demokrasi secara tentram. Sungguh menggembirakan, jikalau memang masyarakat muslim Indonesia dipandang positif sebagai masyarakat demokrat. Bisa dibilang Indonesia cukup berhasil membangun dan menyatukan diversity of religion and political views in democracy.

Once again I told you all, seperti kata Hillary dalam pertemuannya di Asia Society beberapa hari lalu, bahwa bukan karena Barrack Obama pernah tinggal di daerah sekitar Menteng dan diidolakan oleh warga Indonesia. Tetapi lebih mengedepankan bagaimana menjalin, mempererat, dan menegaskan kerjasama yang mutual respect. Semoga saja, pertemuan bilateral antara Amerika Serikat dan Indonesia dapat membawa keuntungan bagi kedua pihak!

Note: As a good citizen, we must be proud of our country!! :)

Wednesday, 3 December 2008

Citizen Journalism: Can't be Responsible at all?

"The attacks in India served as another case study in how technology is transforming people into potential reporters, adding a new dimension to the news media. " (Brian Stelter dan Noam Cohen, "New York Times", 29/11)*

What is Citizen Journalism?

Are the citizens ready to be a journalist?

How about the printed-media, like newspapers and magazines? Would they be ready to face up citizen journalism?

Last Tuesday(December, 2nd), I attended a talkshow which discussed "Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) : Antara Kredibilitas dan Tanggung Jawab". The speaker was Aries Margono, who works for TV One. The talkshow was held by Wretta Aksa in the University of Nasional.

Citizen Journalism existed since we have been in the era of media's convergence. The era of media's convergence means people (read: citizen) can use technologies, such as online-media, blog, and many things like that. People can create and publish news about everything by using all those things. Yup, the technologies are growing faster than before.

Nowadays, there are a lot of popular online-media, for example: Detikcom, and Okezone (you can see HERE). Online-media is becoming more popular than printed-media. Because, the online-media has higher mobilization than printed-media, so that citizens can quickly get information. The circulation of printed-media is much less now, so they (read: printed media) tried to make and develop online-media. They try to provide and share news online. Some of the printed-media on the internet are Kompas Cyber Media, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, and so many (you can see HERE). The citizens can give some information or knowledge to online media about what happens around them.


Or maybe, they can write and publish the news in a blog. Yeay, blog is not something new. Some people (read: citizens) make and use a blog to write everything they know. Of course, i'm one of the citizens who uses blog. If you can't write, you can use a video to inform and share the news, like Youtube. Indonesia, as a developing-country, has so many people who uses a blog in their daily life. It allows Indonesian people to be are so modern and creative.

But, India is also one of the countries in Asia, which has more advanced journalism. This fact is proved from one of the citizen in India, Arun Shanbhag, who reports terorism in Taj Mahal Palace and Tower, on November 26 (as quoted by Brian Stelter dan Noam Cohen, "New York Times", 29/11), you can CLICK HERE.

Back to the discussion about "Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) : Antara Kredibilitas dan Tanggung Jawab"..

Well, Aries Margono explained that J. D. Lasica classified the media of citizen journalism into some categories..
  1. Public's participation, such as comments in the online-media, blog, news video, etc.
  2. Some information and news on the independent web.
  3. News website with full participation, like OhmyNews. Even, OhmyNews has a motto, like: "Every citizen is a reporter" (you can see HERE)
  4. The collaboration of media web, for example: slashdot (you can click HERE).
  5. Or kind of thin media, like mailing-list and newsletter.
Unfortunately, citizen journalism is becoming controvercial, there are pros and cons to that. Many professional journalist are certain that only they can be real journalist. The result and credibility of citizen journalism can't be responsible at all. Not like professional journalist.


*adopted from "Mumbai, Jurnalisme, dan Masa Depan Internet" by Ninok Leksono (Kompas, December, 3rd 2008)