Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Sunday, 23 June 2013

Saya Jatuh Cinta!

Saya jatuh cinta dengan Gili Trawangan




Saya jatuh cinta dengan persahabatan kami




Saya jatuh cinta dengan Pantai Kuta, Lombok


Saya pun semakin jatuh cinta dengan Indonesia. Gak sabar untuk trip selanjutnya di dalam negeri ;)

Wednesday, 3 November 2010

Pray For Indonesia

Sorry for being late to post some important news to be delivered by me through this blog. So sorry. Since I'm late, I won't give the complete news, I just posted a few photos that I collected from any online media. And... I just realized that natural disasters happened on October. For those who read this post, please keep praying for our country, Indonesia, to be always good! Amin.

first, the flood in Wasior, West Papua, happened in the beginning of October, exactly Monday on October 4th, 2010.


the image source

After that flood, we were suprised by the news of earthquake and tsunami that occured in the Mentawai Islands. Both the earthquake and the tsunami happened in Monday on October 25th, 2010.

the image source

Meanwhile we were still shocked by the earthquake and tsunami, another natural disaster occured. It was coming from one of the active volcano mountains in Central Java, Merapi. Merapi has been erupted since Tuesday on October 26th, 2010.

Let's pray for our lovely country, Indonesia! :)

Thursday, 28 October 2010

Selamat Hari Sumpah Pemuda

Kepada seluruh pemuda/i di Tanah Air, alangkah baiknya jika kalian akan menggelar demonstrasi, seyogyanya kalian dapat berpikir kritis sesuai dengan situasinya secara bijak. Artinya, berpikir kritislah kalian jika sesuai dengan tempatnya. Lihat secara seksama dahulu kondisinya seperti apa. Amati dahulu masalah yang akan kalian kritisi apa. Barulah kalian berpikir kritis. Barulah kalian berdemonstrasi. Saya terkadang miris melihat para pemuda/i yang dulunya aktivis lalu sekarang menjadi bagian dari sistem politik yang berkuasa. Ya, pada kenyataannya memang tidak sedikit pemuda/i yang tergiur dengan kekuasaan. Tapi, tidak sedikit pula para pemuda/i yang masih konsisten untuk berjuang di jalan melalui demonstrasi.



Kepada seluruh pemuda/i di Tanah Air, alangkah baiknya jika saat ini kita bertindak dan berpartisipasi dalam mencapai cita-cita bangsa. Tidak hanya diucapkan melalui ikrar sumpah pemuda, tetapi juga dimulai dengan tindakan kecil untuk kemajuan bangsa ini. Contohnya seperti apa? Contohnya, saat sedang ujian, alangkah baiknya jika kalian tidak mencontek dan lebih percaya dengan jawaban kalian sendiri. Dengan tidak mencontek, kalian pun sudah melakukan tindakan positif demi kemajuan pendidikan bangsa. Mudah kan? Yuk, kita mulai bertindak untuk meraih cita-cita bangsa ! Tetap optimis ! :)

Thursday, 5 August 2010

Si Fotografer yang Perlu Diasah

Saya sudah berniat untuk mengasah kemampuan fotografi saya saat berlibur ke dua pulau, yakni pulau Bali dan pulau Sumbawa. Sayangnya, foto-foto yang sukses hanya bisa dihitung dengan jari. Sementara, kebanyakan foto yang di-upload ke facebook adalah sebagian besar hasil jepretan adik yang lebih mahir ketimbang saya. Saya memang butuh ketekunan dan kesabaran yang lebih banyak untuk belajar fotografi. Beginilah hasilnya..


Saya ingin menghasilkan foto siluet, tapi kali ini gagal.





Niatnya, saya ingin mempraktekkan teknik freezing, tapi apa daya, kurang fokus dan kurang pakai perasaan atau hati saat memotret.



Ini satu-satunya yang berhasil

Mari belajar fotografi!

Namanya, Bima

Pernah dengar Bima? Hmm.. Mungkin kalian terlalu sering mendengar Bali, Lombok, Papua, Makassar, ya kan? Kalaupun ada sering mendengar, pastilah kalian tau pasti bahwa Bima merupakan salah satu kota yang terletak di Pulau Sumbawa pada Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Jauh? Hmm.. Cukup jauh, karena kalau kita terbang pakai pesawat, tentu harus transit di Bali, kemudian melanjutkan perjalanan selama satu jam untuk sampai di bandara Sultan Muhammad Salahuddin, kota Bima. Mari saya ajak kalian untuk mengenal sedikit lebih dalam mengenai kota Bima, bukan kabupaten Bima.

Letak Geografis Bima

Kota Bima terletak di bagian timur Pulau Sumbawa pada posisi 118°41'00"-118°48'00" Bujur Timur dan 8°20'00"-8°30'00" Lintang Selatan. Keterangan ini saya ambil dari wikipedia, lantaran saya tidak tahu persis letak geografis kampung halaman ayah ini. Ya, dikarenakan posisi kota Bima berada di bagian timur, alhasil batas-batas wilayah kota Bima adalah sebagai berikut:

1. Bagian utara, kota Bima berbatasan dengan Kecamatan Ambalawi dan Kabupaten Bima;

2. Bagian selatan, kota Bima berbatasan dengan Kecamatan Palibelo dan Kabupaten Bima;

3. Bagian barat, kota Bima berbatasan langsung dengan teluk Bima;

4. Bagian timur, kota Bima berbatasan dengan Kecamatan Wawo dan Kabupaten Bima.

Dilihat dari wilayah-wilayah yang membatasinya, kota Bima juga memiliki keuntungan lainnya, yakni posisinya berbatasan langsung dengan teluk Bima. Akibatnya, ia dikelilingi oleh laut dan pantai.

Penggunaan Bahasa Bima

"Bahasa Bima itu tidak bisa ditulis dan hanya bisa diungkapkan", begitulah penuturan ayah saya mengenai bahasa Bima. Kalaupun bahasa Bima ditulis, akan menghasilkan makna yang berbeda, atau biasa kita sebut dengan kesalahpahaman. Mengapa bisa terjadi seperti ini? Seperti saya pernah jelaskan pada blog saya (perihal materi-materi kuliah) bahwa bahasa merupakan hasil dari kesepakatan-kesepakatan manusia dalam bersosialiasi.

"Dilihat dari fungsinya, bahasa merupakan alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan (socially shared), karena bahasa hanya dapat dipahami apabila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Bahasa diungkapkan dengan kata-kata dan kata-kata tersebut sering diberi arti arbiter (semaunya)", kutipan ini diambil dari bukunya Deddy Mulyana yang berjudul Komunikasi AntarBudaya.

Artinya, wajar saja apabila bahasa Bima dituliskan, maka tak jarang menimbulkan kesalahpahaman makna, lantaran kebanyakan masyarakat Bima menggunakannya secara lisan. Misalnya saja, penulisan nama salah satu penganan khas Bima yang tepat, yakni Pangaha Punga, terkadang ada orang-orang yang menuliskannya menjadi Pangaha Bunga, sehingga maknanya pun akan berbeda. Oleh sebab itu, bahasa Bima lebih baik dan lebih sering diucapkan ketimbang dituliskan.

Uniknya, di dalam bahasa Bima, ada sebuah kosakata yang memiliki beraneka macam makna dan bisa digunakan pengucapannya dalam situasi yang berbeda-beda pula. Contohnya, Kalembo Ade, satu-satunya kosakata yang seringkali diucapkan oleh masyarakat Bima untuk berbagai macam makna. Salah dua makna dari Kalembo Ade ialah "sabar ya" dan "maaf saya tidak bisa membantu".

Penganan Khas Bima

Meskipun kota kecil, tetapi cita rasa kue-kue khas Bima tidak kalah lezatnya. Jikalau kalian mampir ke kota Bima, janganlah lupa untuk mencicipi penganan khas Bima, seperti Bingka Dolu (rasa gula merah dan pandan), Kahangga, Pangaha Punga, Buras, dan sebagainya.



Kue Buras (foto ini diambil oleh saya sendiri)


Kahangga (foto ini diambil oleh adik saya)



Pangaha Punga
(foto ini diambil oleh adik saya)



Bingka Dolu rasa pandan (foto ini diambil oleh adik saya)

Selain kue-kue kering dan basah, Bima juga terkenal akan madu asli dan bandeng presto khas Bima. Madunya tidak terlalu manis. Bandeng presto khas Bima juga tidak menggunakan sambal terasi. Karena, ada beberapa sambal khas Bima yang biasa dinikmati oleh masyarakat kota Bima, di antaranya adalah Sambal Doco Tomat dan Sambal Dungga. Rasa kedua sambal itu asam. Terlebih lagi, Sambal Doco Tomat yang terkadang menggunakan mangga muda di dalamnya. Hmm.. bisa dibayangkan betapa asamnya, bukan?



Bandeng presto khas Bima (foto ini diambil oleh saya sendiri)



Sambal Doco Tomat tanpa mangga (foto ini diambil oleh saya sendiri)


Tempat Wisata di Bima

Bima juga tidak kalah menariknya dengan Bali atau Lombok. Karena, Bima dikelilingi oleh laut dan memiliki banyak pantai yang masih perawan. Mengapa saya simpulkan pantai yang masih perawan? Sebab, beberapa pantai tersebut masih asli dengan air yang jenih dan pasir yang putih bersih serta belum adanya investor baik lokal maupun asing yang menyentuh pantai-pantai tersebut. Beberapa pantai yang masih perawan di Bima adalah pantai Kalaki, pantai Wera, pantai Sape, dan masih banyak lagi yang belum saya kunjungi.



Pasir Kalaki (foto ini diambil oleh adik saya)


Laut Kalaki (foto ini diambil oleh adik saya)


Pantai Sape (foto ini diambil sepupu saya, Tya, sewaktu ia berkunjung ke sana)


Buah Tangan dan Transportasi khas Bima

Jikalau kalian ingin membeli cinderamata khas Bima, kalian bisa membeli songket Bima yang bermotifkan bunga, geometri, dan didukung dengan sentuhan berbagai macam warna yang cantik. Walaupun songket Bima memiliki ragam motif yang sedikit, namun apabila kalian penggemar songket-songket dari berbagai daerah di Indonesia, tidak ada salahnya songket Bima dijadikan sebagai salah satu koleksi kalian.

Selain songket, terdapat pula mutiara sebagai salah satu budidaya yang diunggulkan dari Bima. Bima memang salah satu daerah penghasil mutiara terbaik di Indonesia. Namun, ketika kita hendak membeli mutiara dan songket Bima, ada baiknya kita ditemani warga asli Bima agar dapat mengetahui dan memilih kualitas yang baik dengan harga yang terjangkau.

Berbicara mengenai transportasi, Bima masih mengandalkan transportasi tradisionalnya, terutama benhur dan bemo. Pertama, bemo itu mirip angkot di Jakarta, tarifnya juga kurang lebih sama, dan hanya saja para supir bemo selalu mendendangkan musik dangdut keras-keras, jadi bersabarlah bagi kalian yang tidak biasa. Kedua, benhur merupakan transportasi sejenis andong, seperti di Jakarta. Ya, Benhur adalah kendaraan umum dengan menggunakan tenaga kuda dan masih digunakan oleh kebanyakan masyarakat Bima. Di Jakarta ada andong, di Jogja ada dokar, di Lombok ada cidomo, di Bima ada benhur, dan Indonesia memang kaya akan bahasa.

Akan tetapi, satu hal yang membuat hati saya sedih adalah semakin merajalelanya ojek sebagai salah satu transportasi masyarakat Bima. Di samping kelebihannya sebagai akomodasi yang tercepat dan murah, ojek dapat menjangkau jauh atau tidaknya baik kota Bima maupun kabupaten Bima. Jadi, wajar saja tingkat polusi udara di Bima semakin meningkat, oleh karena debu-debu yang tak terhindarkan.

Satu hal lagi yang perlu dicatat, janganlah kalian mencari Mall atau any other modern retail minimarkets, karena Bima masih sangat mengandalkan sisi tradisional mereka. Dan jangan mencari fast food restaurant, meskipun sayangnya, Bima kecolongan satu produk fast food yang mendirikan cabangnya di salah satu sudut kota Bima. Mudah-mudahan tidak akan ada lagi. Amin.

Jadi, tunggu apalagi? Silahkan berkunjung ke Bima dan ditunggu kedatangan kalian! :)